I.
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Jagung merupakan salah satu tanaman serealia yang
tumbuh hampir di seluruh
dunia dan tergolong spesies dengan variabilitas genetik yang besar dan dapat
menghasilkan genotipe baru yang dapat beradaptasi dengan berbagai karakteristik lingkungan. Jagung sangat
memadai digunakan sebagai bahan pangan pengganti beras atau dapat juga dicampur dengan beras (Purwono dan Hartono, 2011).
Produksi jagung di Provinsi Sulawesi Tenggara pada
tahun 2011 sebesar 67,70 ton pipilan kering dengan luas
panen 28,89 ha, tahun 2012 sebesar 78,45 ton pipilan kering dengan luas panen 30,88 ha dan pada tahun 2013
produksi jagung sebesar 77,70 ton pipilan dengan luas panen 30,28 ha, produktifitas rata-rata
0,26 ton ha-1 (Badan Pusat Statistik Provinsi Sulawesi
Tenggara, 2013).
Kacang tanah merupakan salah satu jenis tanaman
pangan yang mempunyai nilai ekonomi tinggi karena besar manfaatnya bagi
kehidupan manusia antara lain: sebagai bahan makanan, bahan baku industri dan
bahan diversifikasi menu. Produksi rata-rata kacang tanah di Sulawesi Tenggara pada
tahun 2011 sebesar 4,54 ton biji kering dengan luas panen 5,89 ha, tahun
2012 5,20 ton biji kering dengan luas panen 7,50 ha dan pada tahun 2013 mencapai 5,16 ton
biji kering dengan luas panen 7,02 ha, produktifitas
rata-rata 0,41 ton ha-1. Hal ini masih relatif rendah dibandingkan dengan produktifitas
rata-rata nasional yang mencapai 1,12 ton ha-1 (Badan Pusat Statistik Provinsi Sulawesi Tenggara, 2013).
Salah satu penyebab penurunan produksi adalah tumbuhnya gulma pada
lahan pertanaman yang dapat menurunkan
hasil dan mutu biji. Penurunan hasil bergantung pada jenis gulma, kepadatan,
lama persaingan dan senyawa allelopati yang dikeluarkan oleh gulma. Beberapa
penelitian menunjukkan hasil yang negatif
antara bobot kering gulma dengan hasil tanaman jagung dan kacang
tanah, dengan penurunan hasil hingga 95% (Violic, 2000). Warsana (2009), cara yang baik dalam menangani masalah
persaingan antara gulma dengan tanaman budidaya adalah meminimalkan peluang
tumbuh bagi gulma, yaitu menutup lahan sedemikian rupa dengan memanfaatkan
tanaman yang memiliki kemampuan berkompetisi
efisien serta mempertimbangkan agar tidak terjadi persaingan antara
tanaman budidaya itu sendiri. Salah satu usaha yang dapat
dilakukan untuk meminimalkan peluang tumbuh gulma adalah pemberian mulsa alang-alang pada sistem pola
tanam tumpangsari yang diaplikasikan pupuk hayati.
Pertumbuhan
tanaman yang semakin meningkat akibat pengaruh dari pupuk akan meningkatkan
pula daya saing terhadap gulma, dimana gulma tersebut akan memanfaatkan pupuk
sebagai sumber hara yang diberikan kepada tanaman. Disamping
pemberian pupuk, pertumbuhan tanaman juga dapat didorong oleh pemberian mulsa,
dalam hal ini sebagai bahan efisiensi dari penggunaan pupuk yang diberikan pada
tanaman. Azwar (2009), mulsa merupakan material penutup tanah untuk menjaga
kelembaban tanah, menekan pertumbuhan gulma dan penyakit sehingga tanaman dapat
tumbuh dengan baik. Angra (2009), berdasarkan jenisnya mulsa dibedakan menjadi
dua yaitu mulsa organik dan mulsa kimia-sintetis.
Salah satu mulsa organik yang dapat digunakan adalah
mulsa alang-alang. Pemberian mulsa organik seperti alang-alang dapat
menyebabkan suhu permukaan tanah menjadi rendah pada siang hari dan sebagai
penahan angin sehingga pengurangan kehilangan air akibat evaporasi dapat terkendali
(Fahrurrozi et al., 2005). Pemberian bahan organik
baik pupuk hayati agrobost maupun mulsa alang-alang diharapkan dapat menurunkan
intensitas gulma pada sistem tumpangsari, karena mulsa dapat menghambat
masuknya sinar matahari yang diperlukan oleh gulma. Semakin tebal mulsa, maka
pertumbuhan gulma semakin berkurang karena mendapat tekanan.
Berdasarkan uraian di atas, perlu dilakukan penelitian tentang pengaruh
pemberian pupuk hayati agrobost dan mulsa alang-alang terhadap intensitas gulma
pada tumpangsari jagung dan kacang
tanah.
B. Perumusan
Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang di atas, dirumuskan
beberapa masalah sebagai berikut :
1.
Apakah ada
pengaruh pemberian pupuk hayati agrobost dan mulsa alang-alang terhadap
intensitas gulma pada tumpangsari jagung
dan kacang tanah ?
2.
Jika ada, perlakuan
manakah yang paling baik ?
C. Tujuan dan
Kegunaan
Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari
pengaruh pupuk hayati agrobost dan mulsa alang-alang terhadap
intensitas gulma pada tumpangsari jagung dan kacang tanah.
Kegunaan
dari penelitian ini diharapkan memberi pemahaman yang baik bagi petani tanaman jagung
dan kacang tanah tentang pengaruh pemberian pupuk hayati
agrobost dan mulsa alang-alang terhadap intensitas gulma pada tumpangsari jagung dan kacang tanah serta sebagai bahan informasi untuk pengendalian gulma
yang tepat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar