Sabtu, 23 Agustus 2014

PENDAHULUAN



I.                               PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Jagung merupakan salah satu tanaman serealia yang tumbuh hampir di seluruh dunia dan tergolong spesies dengan variabilitas genetik yang besar dan dapat menghasilkan genotipe baru yang dapat beradaptasi dengan berbagai karakteristik lingkungan. Jagung sangat memadai digunakan sebagai bahan pangan pengganti beras atau dapat juga dicampur dengan beras (Purwono dan Hartono, 2011).
Produksi jagung di Provinsi Sulawesi Tenggara pada tahun 2011 sebesar 67,70 ton pipilan kering dengan luas panen 28,89 ha, tahun 2012 sebesar 78,45 ton pipilan kering dengan luas panen 30,88 ha dan pada tahun 2013 produksi jagung sebesar 77,70 ton pipilan dengan luas panen 30,28 ha, produktifitas rata-rata 0,26 ton ha-1 (Badan Pusat Statistik Provinsi Sulawesi Tenggara, 2013).
Kacang tanah merupakan salah satu jenis tanaman pangan yang mempunyai nilai ekonomi tinggi karena besar manfaatnya bagi kehidupan manusia antara lain: sebagai bahan makanan, bahan baku industri dan bahan diversifikasi menu. Produksi rata-rata kacang tanah di Sulawesi Tenggara pada tahun 2011 sebesar 4,54 ton biji kering dengan luas panen 5,89 ha, tahun 2012  5,20 ton biji kering dengan luas panen 7,50 ha dan pada tahun 2013 mencapai 5,16 ton biji kering dengan luas panen 7,02 ha, produktifitas rata-rata 0,41 ton    ha-1. Hal ini masih relatif  rendah dibandingkan dengan produktifitas rata-rata nasional yang mencapai 1,12 ton ha-1 (Badan Pusat Statistik Provinsi Sulawesi Tenggara, 2013).
Salah satu penyebab penurunan produksi adalah tumbuhnya gulma pada lahan pertanaman yang dapat menurunkan hasil dan mutu biji. Penurunan hasil bergantung pada jenis gulma, kepadatan, lama persaingan dan senyawa allelopati yang dikeluarkan oleh gulma. Beberapa penelitian menunjukkan hasil yang negatif antara bobot kering gulma dengan hasil tanaman jagung dan kacang tanah, dengan penurunan hasil hingga 95% (Violic, 2000). Warsana (2009), cara yang baik dalam menangani masalah persaingan antara gulma dengan tanaman budidaya adalah meminimalkan peluang tumbuh bagi gulma, yaitu menutup lahan sedemikian rupa dengan memanfaatkan tanaman yang memiliki kemampuan berkompetisi  efisien serta mempertimbangkan agar tidak terjadi persaingan antara tanaman budidaya itu sendiri. Salah satu usaha yang dapat dilakukan untuk meminimalkan peluang tumbuh gulma adalah pemberian mulsa alang-alang pada sistem pola tanam tumpangsari yang diaplikasikan pupuk hayati.
Pertumbuhan tanaman yang semakin meningkat akibat pengaruh dari pupuk akan meningkatkan pula daya saing terhadap gulma, dimana gulma tersebut akan memanfaatkan pupuk sebagai sumber hara yang diberikan kepada tanaman. Disamping pemberian pupuk, pertumbuhan tanaman juga dapat didorong oleh pemberian mulsa, dalam hal ini sebagai bahan efisiensi dari penggunaan pupuk yang diberikan pada tanaman. Azwar (2009), mulsa merupakan material penutup tanah untuk menjaga kelembaban tanah, menekan pertumbuhan gulma dan penyakit sehingga tanaman dapat tumbuh dengan baik. Angra (2009), berdasarkan jenisnya mulsa dibedakan menjadi dua yaitu mulsa organik dan mulsa kimia-sintetis.
Salah satu mulsa organik yang dapat digunakan adalah mulsa alang-alang. Pemberian mulsa organik seperti alang-alang dapat menyebabkan suhu permukaan tanah menjadi rendah pada siang hari dan sebagai penahan angin sehingga pengurangan kehilangan air akibat evaporasi dapat terkendali           (Fahrurrozi et al., 2005). Pemberian bahan organik baik pupuk hayati agrobost maupun mulsa alang-alang diharapkan dapat menurunkan intensitas gulma pada sistem tumpangsari, karena mulsa dapat menghambat masuknya sinar matahari yang diperlukan oleh gulma. Semakin tebal mulsa, maka pertumbuhan gulma semakin berkurang karena mendapat tekanan.  
Berdasarkan uraian di atas, perlu dilakukan penelitian tentang pengaruh pemberian pupuk hayati agrobost dan mulsa alang-alang terhadap intensitas gulma pada  tumpangsari jagung dan kacang tanah.
B.     Perumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang di atas, dirumuskan beberapa masalah sebagai berikut :
1.      Apakah ada pengaruh pemberian pupuk hayati agrobost dan mulsa alang-alang terhadap intensitas gulma pada  tumpangsari jagung dan kacang tanah ?
2.      Jika ada, perlakuan manakah yang paling baik ?



C.    Tujuan dan Kegunaan
            Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh pupuk hayati agrobost dan mulsa alang-alang terhadap intensitas gulma pada tumpangsari jagung dan kacang tanah.
Kegunaan dari penelitian ini diharapkan memberi pemahaman yang baik bagi petani tanaman jagung dan kacang tanah tentang pengaruh pemberian pupuk hayati agrobost dan mulsa alang-alang terhadap intensitas gulma pada  tumpangsari jagung dan kacang tanah serta sebagai bahan informasi untuk pengendalian gulma yang tepat.